Sabtu, 26 Mei 2012

Konstruksi NU






Judul Buku : Memahami Nahdlatul Ulama Urgensi Besar Membangun Kembali Jembatan Putus
Penulis : Prof. Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si
Pengantar : Dr. KH A. Hasyim Muzadi
Editor : Ach. Syaiful A’la
Penerbit : Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya
Cetakan : I, Pebruari 2010
Tebal : xiv+302  Halaman
Peresensi : Rangga Sa’adillah S.A.P.*

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi yang memiliki masa cukup besar di Indonesia. Istilah guyon di kalangan nahdliyin (sebutan bagi warga NU), mereka juga memiliki komunitas warga yang kompleks, mulai dari qari’ sampai korak. Karena itu, tidak belebihan kalau dikatakan warga NU adalah sebagai representasi fenomena grassroot negara ini.
Dilihat dari namanya yang berarti “Kebangkitan Ulama’”, dapat dipahami bahwa hal ini merupakan penegasan bahwa NU adalah perkumpulan organisasi para kiai yang bangkit untuk membangkitkan para pengikutnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Karenanya kedudukan Kiai pesantren adalah sentral, baik sebagai pendiri, pemimpin dan pengendali organisasi serta sebagai panutan kaum nahdliyin.
Dengan demikian, NU merupakan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang tidak bisa dipisahkan dari Kiai dan tradisi pesantren. Perkembangan NU sejak awal berdirinya menunjukkan betapa besar peranan Kiai dan pesantren di dalamnya. Sehingga, pada hakikatnya NU memang merupakan manifestasi modern dari kehidupan keagamaan, sosial dan budaya dari para kiai pesantren tradisional. Kiai dan Pesantren menjadi konstruk tersendiri pada tubuh NU. Keduanya saling terkait dan dan membentuk bangunan. Kekompakan hubungan itu nampaknya akan tetap merupakan institusi yang mempunyai peranan kuat dalam perkembangan dan masyarakat Indonesia pada umumnya.
Prof Dr KH Ali Maschan Moesa MSi melalui buku "Memahami Nahdlatul Ulama Urgensi Besar Membangun Kembali Jembatan Putus" sejatinya ingin menegaskan kepada pembaca mengenai kontribusi (besar) NU terhadap perjalanan bangsa Indonesia mulai dari sejarah perjuangan Kiai-kiai pesantren NU dalam merebut kemerdekaan ikut mencerdaskan bangsa melalui pengajaran pendidikan di pondok pesantren, dan turut serta mengisi kemerdekaan (dari masa orde lama, orde baru hingga masa reformasi), sehingga NU tidak lagi hanya dipahami sebagai gerakan seremonial politik saja ibarat gadis cantik yang dipinang banyak orang dalam rangka digunakan alat untuk memuaskan ambisi syahwat politiknya masing-masing. Akan tetapi NU masih mempunyai banyak tugas yang harus diselesaikan berkenaan dengan pemberdayaan sosial kemasyarakatan bangsa Indonesia yang terkadang pula dilupakan (atau memang sengaja dibuat lupa) oleh para elite-elite NU sendiri.
Ia memberikan masukan mengenai konstruksi NU sebagai jam’iyyah diniyyah haruslah berangkat dari upaya-upaya meningkatkan SDM. Secara ideal kualitas kehidupan bagi masyarakat NU secara berkesinambungan merupakan bagian paling utama dalam rangka membumikan paham Aswaja. Tantangan yang harus kita jawab bersama adalah, “Bisakah kita menyatakan bahwa pada era saat ini kita mampu mempertajam pencapaian tersebut?”.
Penulis mengajukan beberapa agenda implementasi Aswaja sebagai masukan pada NU. Pertama, memajukan keadilan dan kesetaraan gender serta pemberdayaan perempuan, menghapus seluruh bentuk kekerasan terhadap perempuan; dan menjamin kemampuan perempuan untuk mengontrol kehidupan fertilitas mereka sendiri adalah dasar dari keterkaitan program membumikan Aswaja.
Kedua, menurunkan tingkat kematian bayi di bawah 35 per 1.000, kelahiran hidup dan kematian balita 45 per 1.000. Ketiga, menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan sampai di bawah 125 per 100.000. Keempat, upaya penjaminan paling tidak 75% dari penduduk usia 15-25 tahun memiliki akses pada KIE (komunikasi, Informasi, Edukasi), serta pelayanan untuk mengembangkan life skill yang dibutuhkan untuk mengurangi kerentaan mereka terhadap infeksi HIV/AIDS. Kelima, peningkatan kualitas SDM ini harus diintegrasikan dalam formulasi, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi dari kebijakan dan program yang terkait.
Mengenai konstruksi NU di bidang pendidikan sudah tak asing lagi yakni pesantren. Pesantren sebagai center of learning umat minmal dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek pendidikan dan pengajaran. Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam secara selektif mengkonstruk santri menjadi manusia mandiri dan diharapkan dapat menjadi pemimpin umat serta memperoleh ridha Tuhan. Yang paling ditekankan adalah pengembangan watak individual yang berorientasi pada self employment dan social employment.
Selanjutnya adalah aspek kepemimpinan kiai dan aspek pengembangan masyarakat. Setidaknya konstruk Kiai memiliki beberapa kriteria. Pertama, memiliki integritas pada kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Kedua, kapasitas potensial dalam penguasaan informasi, keadilan profesional, dan kekuatan moral. Ketiga, pesona pribadi yang tidak saja menjadikan seorang Kiai dicintai dan dijadikan panutan, melainkan juga figur keteladanan dan sumber inspirasi bagi komunitas yang dipimpin. Jika Kiai memenuhi kriteria diatas, maka semakin kuat pula ia dijadikan pemimpin di tengah umat.
Yang terakhir adalah konstruk pengembangan masyarakat. Dalam bidang sosial pengasuh pesantren menjadi pemimpin umat dan rujukan legitimasi terhadap warganya. Bentuk kegiatan masyarakat tradisional diwujudkan dalam layanan pengobatan dan perdukunan, demikian juga konsultasi kerohanian untuk masalah kehidupan sehari-hari. Pelayanan kepada masyarakat tersebut pada dasarnya menunjukkan kemauan untuk melindungi kedudukan, tradisi  dan ciri kepribadian mereka.
Akhirnya, buku ikumpulan makalah penulis yang telah dimuat dalam surat kabar dan disampaikan di berbagai seminar ini tidak seperti bunga rampai biasa. Sistematika kajian dan pembahasan mempunyai keterkaitan satu sama lain, hal ini menampakkan proses pengeditan yang bagus. Memang ada beberapa kesalahan kecil namun tidak berpengaruh secara esensial karena yang terpenting adalah isi pembahasan dan alurnya. Selamat membaca!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar