Sabtu, 26 Mei 2012

Filosofi Kenyelenehan Gus Dur









Judul buku : Nyeleneh itu Indah
Penulis : Achmad Mufid AR
Penerbit : Kutub Yogyakarta
Cetakan : 1, 2010
Tebal : 112 halaman
Peresensi : Siti Muyassarotul Hafidzoh*
Kehebohan ini bermula dari kejadian sederhana. Saat itu, Gus Dur telah diwawancarai oleh majalah Amanah, edisi Mei, 1987, selama lima jam dalam bulan puasa. Gus Dur saat itu tanyai ihwal ide pribumisasi Islam yang dilontarkannya. Gus Dur mencontohkan idenya tersebut dengan bolehnya menggunakan selamat pagi, selamat siang, selamat sore, selamat malam, sebagai ganti dari assalamu’alaikum.
Saat majalah Amanah tersebar di publik, suara miring langsung menyeruak untuk memojokkan Gus Dur. Bahkan para kiai sepuh di lingkungan nahdliyyin juga resah dengan ulah nakal cucu pendiri NU ini. Tidak tanggung-tanggung, para kiai yang resah dengan Gus Dur ini akhirnya menggelar “pengadilan” buat Gus Dur. Pada 8-9 Maret 1989, sekitar 200 kiai berkumpul di Pesantren Darut Tauhid Cirebon untuk mengadili pemikiran Gus Dur.
Sekitar 200 kiai tersebut menyusudutkan dan mendakwa Gus Dur dengan beragam sebutan. Berbagai pertanyaan diajukan para kiai dengan nada marah dan menggugat. Tetapi dengan santai dan percaya diri, Gus Dur saat itu menjelaskan bahwa apa yang dilakukan sebenarnya meniru Wali Songo. Gus Dur ingin mempertemukan antara budaya (al-‘adah) dan norma (syariah). Karena Wali Songo menjadi rujukan utama dalam dakwah NU, bagi Gus Dur, maka melanjutkan metode Wali Songo dalam berdakwah adalah tugas para kiai dan ulama’ di Nusantara.
Walaupun telah menjelaskan panjang lebar ihwal ide pribumisasi Islamnya, tetap saja Gus Dur menjadi tokoh yang terkadung mendapat cibiran dari sebagian kiai. Tak terkecuali kiai sepuh yang sangat disegani saat itu, yakni KH As’ad Samsul Arifin, dari Situbondo. Bahkan Kiai As’ad inilah yang melapangkan jalan Gus Dur menuju Ketua Umum PBNU saat Muktamar NU tahun 1984 di pesantrennya Kiai As’ad sendiri. Karena tidak sepakat dengan Gus Dur, Kiai As’ad menyebut Gus Dur saat itu sebagai kiai ketoprak. 
Peristiwa tersebut menjadi monumen penting untuk membaca Gus Dur sebagai sosok nyeleneh, alias kontroversial. Dan buku  ini berusaha membedah kenyelenehan Gus Dur tersebut dalam sebuah tafsir yang juga nyeleneh, karena kalau menggunakan logika positivistik, maka sulit sekali menemukan ritme gerak pemikiran yang diwacanakan Gus Dur. Kaca mata nyeleneh, namun kritis, menjadi perspektif paling menarik untuk membaca segala kenyelenehan Gus Dur.
Logika yang tidak linier yang digunakan penulis untuk membaca ragam kenyelenehan Gus Dur menjadi menarik, karena melihat Gus Dur bukan dengan tafsir sebagaimana selama ini digunakan publik seperti biasanya. Penulis mampu melihat Gus Dur sebagai sosok yang ingin membuka pencerahan, bukanlah dengan cara umumnya, karena masyarakat santri akan mengalami kelambanan dalam gerak mobilitas vertikalnya.
Beragam gerak nyeleneh Gus Dur kalau didalami dengan seksama, justru mengasyikkan dan menyenangkan. Karena pembaca akan menemukan sesuatu yang baru yang sulit menemukannya dalam berbagai fenomena social yang linier. Gus Dur membuka mata batin pemikiran kita agar tidak terjebak dalam simbolisme yang seringkali ambigu.
Kasus mengganti assalamu’alaikum dengan “selamat pagi” bukanlah keinginan Gus Dur untuk mengganti syariat, tetapi sebuah upaya Gus Dur yang sangat brilian karena berupaya mendekatkan syariat dengan tradisi. Gus Dur juga tidak menginginkan masyarakat terjebak dalam tafsir simbolik apa adanya. Gus Dur ingin menggugah kesadaran beragama umat agar kritis dan terbuka. Beragama bukanlah dengan terikat berlebihan dengan simbol. Karena yang jauh lebih penting adalah memahami substansi dari ajaran agama itu sendiri. Terjebak dalam symbol hanya akan membuat keberagamaan menjadi artifisial dan dangkal. Sedangkan kalau mampu memahami ajaran agama substansi ajaran, maka keberagamaan akan semakin jernih.
Gus Dur menginginkan masyarakat agar tidak terjebak dalam dangkalnya keberagamaan. Dalam sebuah ungkapan dijelaskan bahwa yang dianggap adalah yang substansi, bukan pada sisi luarnya (al-‘ibroh bil jauhar la bil madzhar). Gus Dur menginginkan mutiara (jauhar) dalam keberagamaan, bukan pada kulit luar (madzhar) yang seringkali menipu seseorang. Meneguhkan mutiara dalam bersikap di ruang kehidupan inilah yang selalu diasah Gus Dur dengan berbagai kontroversi pemikiran dan tindakan yang kerap kali tidak dipahami secara jernih oleh warga nahdliyyin maupun bangsa Indonesia .
Berbagai sikap kontroversial Gus Dur lahir mengalir begitu saja. Seperti menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKI), membukam malam puisi Yesus, bekerjasama dengan Israel, gabung dengan Institute Simon Peres, menolak hadirnya kaum sektarian (ICMI), hubungan antar agama, dan sbagainya. Semua gerak kontroversi ini lahir mengalir begitu saja, sehingga public menilainya pun dengan beragam tafsir. Ragam tafsir yang tidak searah dan sepihak itulah justru yang diharapkan Gus Dur, sehingga masyarakat tidak terjebak dalam tafsir tunggal yang absolute yang hegemonic.
Dengan berbagai uraian renyah dan kritis, Mufid menyajikan buku ini agar kita bisa melihat kontroversi Gus Dur bukan para aras yang serba salah dan serba disalahkan. Tetapi Mufid menginginkan agar kita terus membaca setiap jejak langkah, agar tak kabur dengan fenomena. Gus Dur hadir bukan untuk menggurui, tetapi untuk mengajak kita semua untuk bersikap kritis, teguh dengan prinsip, dan terbuka tanpa harus tersekat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar