Rabu, 16 Mei 2012

KH Masyhudi Hasan



Para santri, alumni, nahdliyin dan ummat Islam, setidaknya di Kabupaten Bojonegoro berduka. Salah satu kyai sepuh, baik secara keilmuan dan ketokohan, telah kembali menghadap Sang Kholiq. Ya, KH Masyhudi Hasan, pendiri dan pengasuh Ponpes Al Falah, sebuah Pesantren yang berada di Jl Serma Abdullah 130 Desa Pacul Kecamatan Bojonegoro itu kini telah tiada. Ia dipanggil untuk kembali menghadap-Nya pada Rabu (30/6/2010) pukul 13.15 WIB lalu. Data yang diperoleh penulis, almarhum mangkat karena penyakit sesak yang beberapa tahun terakhir ini menderanya.
Sebagai orang yang hampir 8 tahun ngadam alias nyantri dan mengabdi di pesantrennya, tentu sedikit banyak penulis tahu tentang sosok ini. KH Masyhudi Hasan, adalah sosok tegas dan disiplin, beberapa pihak yang tak banyak mengenalnya, mungkin menyebutnya keras. Begitulah, apalagi jika ditilik dari penampilan fisik, kyai satu ini memang trengginas, bicaranya ceplas ceplos, tatapan kedua matanya juga sangat tajam.
Lalu apa yang perlu dikenang dan diteladani dari sosok yang pernah ikut ambil bagian dalam proses babat alas berdirinya NU di Bojonegoro dan beberapa periode menjadi pengurus MUI ini ?. Idealisme keilmuan, barang kali itulah kalimat sederhana yang bisa penulis gambarkan untuk segudang kenangan dan teladan dari almarhum. Seperti dipahami, al ‘ulamau warotsatul anbiya, ulama adalah pewaris para nabi. Untuk melanjutkan perjuangan tercapainya ajaran Islam yang sempurna, rohmatan lil ‘alamin. KH Masyhudi Hasan, dalam kaca mata penulis, memenuhi syarat untuk disebut warotsatul anbiya, dan ketika seorang ulama meninggal, bukankah itu berarti satu ilmu Allah telah diangkat kembali ke sisi-Nya, bumi telah kehilangan satu ilmunya.
Idealisme Keilmuan
Dalam khazanah keilmuan Islam dikenal istilah sanad muttasil (urutan yang tersambung), ini terutama harus berlaku untuk jenis keilmuan (yang mendalam dan tuntas) misalnya; untuk ilmu nahwu, shorof, hadits, tafsir, tajwid, mantiq, ma’ani, balaghoh, tasawuf, falaq, dan lain-lain tentunya, masih sangat banyak fan ilmu yang memang tak sembarangan orang bisa mendapat, pinjam istilah KH Masyhudi Hasan, rebues alias ijazah untuk mengamalkannya, mengajarkannya kepada orang lain, dalam konteks keilmuan Islam, sekali lagi dalam konteks keilmuan Islam, secara sah. Seseorang harus punya rebues alias ijazah dari guru tempat dia belajar dan itu tersambung secara terus menerus sampai ke pengarang kitab, atau rowi (periwayat) pertama kalau itu ilmu hadits, tak boleh putus satupun. Hal ini tentu sangat berbeda dengan khazanah ilmu kanuragan, yang tak harus sanad muttasil, seseorang bisa memperoleh secara sempurna apa yang diinginkan dengan cukup berguru kepada seorang guru yang menguasai ilmu tertentu.
KH Masyhudi Hasan (ternyata), adalah salah satu kyai yang memiliki sanad muttasil dalam setiap fan ilmu yang dikuasainya. Jujur saja, penulis tahu fakta ini juga karena tindakan nekat yang penulis lakukan demi menuntaskan rasa penasaran yang terpendam bertahun-tahun. Selama 7 tahun meguru di Al Falah, saya benar-benar tidak berani, meski sekedar ngrasani. Ceritanya begini, dalam setiap mbalah kitab, KH Masyhudi seperti selalu punya kunci untuk mengungkap setiap harokat, huruf, kalimat, dan kedudukan kalimat, yang musykil (sulit diartikan, baik secara harfiyah maupun maknawiyah), termasuk ketika dalam sebuah kitab terjadi salah cetak dalam susunan kalimatnya. Pertanyaan dalam hati saya ketika itu, kenapa bisa tahu ?.
Untuk tafsir Al Qur’an, Kyai Masyhudi istiqomah mengajarkan Tafsir Jalalain, sebuah kitab tafsir hasil karya Jalal bersaudara itu. Yang masih selalu saya ingat, ketika tafsir Al Qur’an yang diajarkan, kyai selalu bilang Qoolallahu ta’ala, wallahu asdaqul qooilin. Ada apa dengan kalimat itu, ketika ada yang musykil, kalimat itu dibaca berulang-berulang, dan tak lama kemudian, kemusykilan itu ditemukan. Sementara, untuk kitab lainnya, karangan ulama salaf, kata kunci yang diucapkan adalah Qoolal mushonnifu rohimahullahu ta’ala, nafa’ana bihi, wabi’ulumihi, wa amaddana bi asrorihi wa a’aada ‘alaina bibarokatihi fiddaroini. Amin. Ada apa pula dengan kalimat ini ?. Dalam sedikit kesempatan, kyai kadang lantas mengirimi fatihah mushonnif (pengarang kitab), setelah itu terdengar suara brak brak brak, 3 kali, telapak tangan kyai memukul dampar (meja), dan kalimat musykilpun terjawab. Mungkin ini tak banyak mendapat perhatian dari santrinya, tapi ini yang benar-benar membuat saya memendam pertanyaan dalam dari tahun 1992 sampai dengan 1999, tahun dimana saya bermuqim di pondok itu.
Baru pada tahun 2005, saya benar-benar nekat. Saya menghadapnya secara sendiri, seperti biasa, kami lantas berbincang tentang banyak hal. Saat itu saya masih menjadi wartawan salah satu Koran harian terbitan Surabaya, disitu naluri kewartawanan saya muncul, lagi pula, kalau misalnya pertanyaan saya membuat kyai tidak berkenan dan marah, ya, saya anggap wajar. Prinsip saya ketika itu, santri dimarahi kyai itu ‘kan biasa. Bertanyalah saya tentang perihal yang saya ceritakan di atas. “Bagaimana bisa begitu kyai ?,” kataku. Lama saya tidak mendapat jawaban, kecuali hanya tersenyum. Setelah itu, berceritalah kyai Masyhudi perihal sanad muttasil itu.
Diceritakannya, untuk ilmu nahwu dan shorof misalnya, kyai Masyhudi menuntaskan ilmu ini kepada Kyai Abu Dzarrin (pendiri Ponpes Abu Dzarrin, Kendal Dander), selain beberapa kitab lain, saya lupa, dia menyebutkannya satu persatu. “Ilmu nahwu dan shorof adalah pokok dari seluruh ilmu, shorof itu ibu, nahwu itu bapaknya ilmu,” katanya kala itu sembari menyitir sebuah maqolah. Setelah itu kyai Masyhudi mondok di Lasem, Rembang, kepada Kyai Masduqi. Cukup lama Kyai Masyhudi mondok di tempat ini, tak hanya kitab-kitab kecil, Kyai Masyhudi hingga menuntaskan kitab-kitab besar seperti syarkhul hikam, ihya ulumuddin, uqudul juman, juga jam’ul jawami’. Selanjutnya, untuk mendapat ijazah dari setiap kitab, kata Kyai Masyhudi, ia diperkenankan Kyainya (Kyai Masduqi) untuk berkeliling ke pesantren-pesantren yang ada di tanah Jawa. “Karena dawuh Kyai Masduqi itu, saya akhirnya keliling dari pondok ke pondok untuk mendapat ijazah dari Kyai yang ditunjuk oleh Kyai Masduqi,” ujarnya dalam bahasa jawa sembari menyebut satu persatu pesantren yang pernah disinggahinya. “Saya kemana-mana biasanya naik kereta api, saya pakai koper ini, ini koper kenangan,” lanjutnya setelah sesaat masuk rumah dan mengambil sebuah koper yang terbuat dari bahan semacam seng bercampur kulit dan ditunjukkan kepada penulis, memegangi koper butut itu, mata Kyai Masyhudi sempat berkaca-kaca.
Dari sini, kemudian saya bisa menyimpulkan kenapa dalam konteks keilmuan, Kyai Masyhudi begitu idealis. Tak jarang, pada kitab tertentu, Kyai ini berani mengkritik moshonnifnya, menjelaskan kekurangan sekaligus kelebihan isi kitab tertentu dan membandingkan kitab dengan pembahasan yang sama yang dikarang oleh mushonnif lain. Kyai Masyhudi juga banyak hafal riwayat dan biografi para pengarang kitab, kitab apa saja yang dikarang dan bahkan kader dan murid-muridnya. Tak hanya itu, ada beberapa kitab tertentu Kyai Masyhudi tak mau mengajarkannya kepada santri Al Falah, karena tidak cocok dengan prinsipnya, heran saya, hal itu didasari dalil yang masuk akal, bahkan ilmiyah secara keilmuan.
Kyai Masyhudi dalam kesempatan tersebut juga mengaku belum menurunkan ilmunya, dalam konteks ijazah dan sanad muttasil, kepada seluruh santri Al Falah. Pengajaran yang dilakukan, hingga pada tahun tersebut, baru pengajaran biasa dan pada umumnya seorang guru mengajar muridnya, atau seorang kyai mengajar santrinya. “Yo mungkin durung kang, engko nek wes ono santri seng iso memenuhi persyaratane,” kata Kyai Masyhudi sembari menyebutkan sederet persyaratan keilmuan yang harus dipenuhi bagi seseorang yang bisa mendapatkan ijazah sanad muttasil.
Dari sini, saya bisa banyak belajar mengapa Kyai Masyhudi senantiasa tegas dalam banyak masalah social dan keagamaan. Jangan heran jika seseorang salah menempatkan kalimat saja, Kyai Masyhudi langsung angkat bicara, mengkritik. Ketika santrinya sedang sambutan atau pidato, dan menyitir sebuah hadits, menyebut rowahu saja, benar-benar dilarang. “Kathik mbok ke’i rowahu Bukhori Wamuslim, awakmu kapan ketemu Bukhori karo Muslim. Al hadits au kamaa qoola, ngono lakyo wes cukup,” sarannya. Maksud kyai, siapapun diminta hati-hati, menghargai ilmu, jika tidak memilik sanad muttasil, janganlah mencatut nama perowi seenaknya.
Masih banyak contoh lain yang dikritisi, misalnya soal mau’idhoh hasanah, kyai jarang mau menggunakan kalimat ini, sebab kalimat ini berlaku ketentuan dan syarat. Assalam qoblal kalam, juga menjadi prinsip. Kemudian mengucapkan kalimat ‘Menurut pendapat saya’ itu menurut kyai juga harus dihindari dalam hal keilmuan. “Wong kepet kok melok-melok nduwe pendapat,” bentaknya kepada seorang santri. Maksud kyai, yang boleh memiliki pendapat dalam konteks pengambilan hukum, hanyalah mujtahid mutlaq, yaitu imam 4, Syafi’i, Hanafi, Hambali, dan Maliki, atau yang terkenal dengan istilah mahadzibul arba’ah. Jika ingin mengemukakan pendapat, cukuplah mengatakan ma’khodz (literatur)-nya.
Tak hanya itu, kepada para santrinya, Kyai Masyhudi juga menekankan metode rasionalitas dalam menuntut ilmu. Ada sedikit cerita saat penulis bermaksud minta doa restu saat hendak menjalani tes di kampus. Saya bilang, “Kyai, mohon doa restunya, saya besuk ujian Kyai !,” kata saya ketika itu dalam bahasa jawa halus. Apa jawab Kyai Masyhudi, alih-alih dapat restu, saya malah dibentak. “Sejak kapan kamu menganggap saya dukun, apa kamu belum memahami ta’lim (kitab ta’limul muta’alim) yang saya ajarkan setiap hari itu,” sahutnya dengan nada tinggi. “Barangsiapa ingin kenyang tanpa makan, ingin kaya tanpa bekerja, dan ingin pandai tanpa belajar, waljununu fununu (orang stress memang macam-macam bentuknya). Ingat syairnya nggak kamu !?,” tukasnya bertanya.
Dalam kesempatan tersebut, kepada saya, Kyai Masyhudi juga mengatakan, seorang santri, jika sudah keluar dari Pondok, setidaknya harus menempel dalam dirinya 1 dari 3 perkara. Pertama alim (pandai); kedua kaya; dan ketiga jaduk (sakti). “Nek wes oleh siji, insyaAllah liyane katut, sebab Gusti Allah nyediakno karomah. Nek ora telu-telune, berarti kowe wala syaia (bukan apa-apa),” tuturnya. Kyai Masyhudi kemudian juga menerangkan tentang 3 perkara itu, cara memperolehnya, dan implementasinya. Setelah selesai, saya pamit sambil menekuk muka, menahan malu.
Bisa jadi, masih banyak kyai yang memiliki sanad muttasil seperti Kyai Masyhudi, karena itu, para santri, yang mengetahui hal ini, haruslah benar-benar serius, agar Anda menjadi salah satu dari penerus keilmuan Islam yang mendapat julukan dan tempat luar biasa. Anda belajar untuk dipersiapkan menjadi agamawan, bukan hanya agamis, apalagi hanya sok agamis.
Kini, Kyai Masyhudi telah tiada, ia benar-benar menjadi contoh, menjadi kaca benggala, terutama buat santri di pondok-pondok pesantren, dan murid-murid di lembaga pendidikan. Kyai Masyhudi, telah memilih jalan hidupnya, menafkahkan jiwa dan raganya, untuk ilmu. Keilmuan yang sempurna !. Selamat jalan kyai, kau pasti punya kader dan penerus untuk melanjutkan perjuanganmu !.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar