Senin, 14 Mei 2012

KH. Mushlih Bin H. Abdurrozi



Hadratus Syekh KH. Mushlih bin H. Abdurrozi yang lebih dikenal dengan panggilan Mama Ajengan Jenggot, lahir pada tahun 1905 M di Desa Loji, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, dari seorang ibu bernama Hj. Romlah. Ayahnya bernama H. Abdur Rozi atau yang lebih dikenal dengan panggilan Embah Penghulu Kadar. Keduanya merupakan keturunan dari Syekh Maulana Hasanudin, Banten. Semasa kecil Hadratus Syekh lebih dikenal dengan nama Den Enoh. MASA BELAJAR Pada awalnya beliau belajar kepada K.H. Masduki dari Waru, Pangkalan. Kemudian ke Citeko dan Cibogo, Plered. Lalu ke Pesantren Cigondewa , ke Mama Gedong (Ama Dimyati) Sukamiskin,
Bandung, serta ke KH. Zaenal Mustofa, Sukamanah, Singaparna, Tasikmalaya. Sedangkan di bidang ilmu alat beliau belajar di Pesantren Sukaraja, Limbangan, Garut. Beliau juga tercatat sebagi santri pertama Pesntren Cipasung, Tasikmalaya, karena KH. Ruchyat, pendiri pesantren tersebut bersama-sama dengan beliau belajar di Sukamanah. Ketika KH. Ruchyat pulang dan mendirikan pesantren Cipasung, Hadratus Syekh ikut dan menjadi santri pertamanya, sekaligus menjadi ustadz / guru bagi santri baru. Beliau juga pernah belajar ke KH. Thubagus Mansyur (Paman beliau) di Ciserang Ujung Timur, Desa Cibogo Girang, Plered, Purwakarta, untuk memperdalam ilmu silat disamping ilmu-ilmu agama, dan ilmu silat ini juga beliau dapatkan dari orang tuanya. Dalam bidang thariqah, beliau mengambil Thariqah Qadiriyah dan bersanad ke KH. Sujai, Buah Batu, Bandung (salah seorang tokoh pendiri UNINUS Bandung), dan KH. Ja’far Shadik, Sukamiskin, tetapi tidak diketahui kepada siapa beliau berguru / mendapat ijazah thariqah, namun beliau tabaruk thariqah ke Sukamiskin, Bandung. Dalam bidang ilmu dalail dan ilmu hikmah beliau berguru kepada Ama Ajengan (Eyang) Rende (KH. Ahmad Zakariya bin H. Muhammad Syarif), salah seorang guru yang sangat dekat dengan beliau dan pernah mukim di Masjidil Haram selama 21 tahun. AKTIVITAS Pada tahun 1938 Hadratus Syekh KH. Mushlih mulai mendirikan Pondok Pesantren di Telukjambe (Wisma Kerja PERURI sekarang). Mungkin ini merupakan pondok pesantren pertama di Telukjambe, bahkan di Karawang. Satu hal yang patut diacungi jempol, beliau menidirikan pondok pesantren tanpa meminta sumbangan dari masyarakat, tetapi betul-betul dari hasil berdagang, karena beliau terkenal gesit dan tekun berdagang. Bakat dagang ini telah terlihat sejak beliau masih kecil, yaitu suka membantu neneknya berjualan ikan peda. Beliau biasa berjualan minyak wangi dan arloji (jam tangan) dengan naik sepeda sambil keliling mengisi majelis-majelis pengajian yang tersebar di Kabupaten Karawang, antara lain ke Desa Jatiragas Kecamatan Jatisari, Desa Langseb Kecamatan Pedes dan Rawamerta (yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Nihayatul Amal). Konon kabarnya beliau juga pernah menjadi Penghulu di Telukjambe. Antara tahun 1943-1945 atas panggilan gurunya, yaitu KH. Zaenal Mustofa, beliau berangkat ke Tasikmalaya dan ikut terlibat dalam perlawanan santri Singaparna melawan kolonial Jepang, yang terkenal dalam sejarah sebagai Tragedi Singaparna yang mengakibatkan gugurnya KH. Zaenal Mustofa dalam penyiksaan tentara Jepang, akibat tipu muslihat Jepang. Sepulangnya dari Singaparna, Hadratus Syekh bersama keluarga pindah ke Loji dan santri di Telukjambe dibubarkan. Tetapi kemudian beliau mendirikan pesantren lagi di sekitar pasar Loji sekarang. Pada tahun 1950, beliau pindah lagi ke Telukjambe (di depan Mesjid Jamie Al-Ikhlas sekarang), dan pada tahun 1976 mendirikan Mushola Al-Mushlih dengan bantuan bahan bangunan dari proyek pembangunan Asrama Kostrad 324. Ketika PSII dan PERTI keluar dari Masyumi, NU juga keluar yang dinyatakan dalam Kongres di Palembang. Sebagai seorang Kiyai pesantren beliau mengikuti wadah NU, dan pernah datang ke H. Kustana (Ayah KH. Abdul Muhyi) berpesan supaya sejalan dalam berfikir dengan sikaf NU. Dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Hadratus Syekh KH. Mushlih layak disebut sebagai Tokoh Ulama Pejuang. Pada hari Selasa, tanggal 15 Sya’ban 1405 H / 1985 M dalam usia ± 80 tahun, beliau dipanggil ke haribaan Allah SWT. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Sebelum wafat beliau mewakafkan sebidang tanah seluas ± 3.850 meter persegi yang disediakan bagi cucunda beliau KH. Nandang Qusyaerie, SH untuk dibangun Pondok Pesantren. Alhamdulillah, sejak tahun 1999 berdirilah secara resmi pondok pesantren dengan nama Pondok Pesantren Al-Mushlih, sebagaimana yang bapak/ibu saksikan sekarang ini. PESAN-PESAN HADRATUS SYEKH “Kalau kita berdo’a jangan mengingat apa yang kita inginkan (kebutuhan/hajat), tetapi kita hanya mengingat bahwa kita sedang berhadapan dengan Allah Azza wa Jalla”. “Jika kita mendapat suatu asror (Inkisyaf), jangan tertipu oleh hal itu (jangan terpengaruh), karena tujuan kita hanya Allah”. خشوع شهود خـضورالقـلب “Supaya tidak mandek (vacum) menjalankan ibadah ubudiyah, terus hadir hati kepada Allah, Dzikir Wahid, yaitu hanya mengingat Allah Rabbul ‘Alamin”. “Kita harus suluk, wushul, minimal ikhlash, dan juga tabarri”. “Kita antara qadar dan ikhtiar, itulah aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah, yaitu aqidah yang berpegang teguh dan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW, para Shahabat r.a., para Tabi’in, para Ulama Salaf dan Khalaf serta para Ulama Mutaakhirin. “Shalat itu ada yang dinamakan Shalat Qaim, yaitu shalat 5 waktu yang biasa dilaksanakan, dan Shalat Daim, yaitu shalat sepanjang masa (seumur hidup) dengan jalan senantiasa ingat kepada Allah (dzikrullah)”. SILSILAH NASAB KH. Mushlih bin H. Abdur Rozi (Embah Penghulu Kadar) bin H. Abdul Karim (Embah Sarneha) bin Sayidin (Bapak Sarneha) bin Thubagus Bidin (Bah Emong) bin Pangeran Sake (Pangeran Saleh) bin Sultan Ageng Abdul Fatah (Sultan ageng Tirtayasa) bin Sultan Abu Ma’ali (Sultan Ahmad) bin Sultan Mahmud Abdul Mafahir (Sultan Abdul Kadir) bin Maulana Muhammad Nasiruddin bin Sultan Maulana Yusuf bin Sultan Maulana Hasanudin bin Syekh Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati Cirebon).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar