Senin, 14 Mei 2012

KH. Muhammad Zubaidi Muslich



Drs. KH. Muhammad Zubaidi Muslich dilahirkan di desa Parijatah Kulon, Dusun Melik, Kecamatan Serono, Kabupaten Banyuwangi, pada tanggal 1 Juni 1942. Beliau dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang taat beragama dan memiliki semangat juang yang tinggi untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan agama Allah SWT.
1. Asal-usul
a. Jalur keturunan dari ayah
Asal-usul Drs. KH. M. Zubaidi Muslich dari jalur keturunan ayah ini dapat diketahui sampai pada buyut beliau. Yang mana leluhur beliau adalah golongan orang-orang yang fanatik dalam masalah agama, baik di lingkungan keluarga sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Keluarga besar ini hampir seluruhnya adalah pemuka-pemuka agama atau berprofesi sebagai guru agama. Seperti halnya ayah beliau yang dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Hidayatul Muta’alimin (tahun 1935).
Secara kronologis jalur dari sang ayah ini diawali dari buyut beliau yang bernama KH. Muhammad, beliau dikenal sebagai pemuka agama sekaligus pengajar yang dihormati dan ditaati oleh masyarakat. KH. Muhammad mempunyai anak bernama KH. Hanafi. Pada perkembangan selanjutnya KH. Hanafi lah yang kemudian meneruskan estafet perjuangan ayahnya, yaitu dalam membimbing, membina dan mengarahkan masyarakat pada kehidupan yang agamis. Kemudian KH. Hanafi mempunyai keturunan bernama KH. Muslich, yaitu ayah dari Drs. KH. M. Zubaidi Muslich. Mengikuti jejak ayah dan kakeknya, KH. Muslich juga dikenal sebagai orang yang disegani masyarakat dan pendiri dari Pondok Pesantren Hidayatul Muta’alimin.
Pada awalnya Pondok Pesantren Hidayatul Muta’alimin hanya sebuah padepokan dan tempat ibadah yang digunakan oleh KH. Muslich sebagai tempat mengaji dan mengajar agama untuk masyarakat setempat. Karena hari demi hari, bulan bahkan tahun demi tahun santri yang mengaji semakin bertambah. KH. Muslich bertekad dan berusaha mendirikan Pondok Pesantren untuk menampung santri-santri yang rumahnya jauh
Sebagai tokoh masyarakat dan pengasuh Pondok Pesantren, beliau mempunyai cita-cita agar Pondok Pesantren yang didirikannya dapat berkembang dan diteruskan oleh putra putrinya. Maka beliau memondokkan putra-putrinya agar mereka dapat menjadi kader-kader penerus perjuangannya dalam menegakkan dan menyebarkan agama Islam di masyarakat.


b. Jalur keturunan dari ibu
Asal-usul Drs. KH. M. Zubaidi Muslich dari jalur ibu ini sampai pada Pangeran Diponegoro bahkan ada percampuran dengan orang bugis, hanya saja beliau mengetahuinya sampai buyut saja.
Drs. K.H. M. Zubaidi Muslich mempunyai buyut bernama Sudarso. Beliau adalah orang yang sangat disegani dan terpandang karena beliau adalah tokoh dan pengajar di kalangan masyarakat. Beliau mempunyai anak bernama H. Toyyib. Sebagai seorang anak dari tokoh agama, ia sangat diperhatikan sekali masalah pendidikan agamanya, sehingga kelak ia menjadi anak yang sholeh dan menjadi penerus perjuangan ayahnya. Dari pendidikan agama yang diperolehnya dari ayah dan guru-guru beliau di Pondok Pesantren beliau tampil sebagai guru agama dan tokoh masyarakat. Dan satu hal lagi yang ada pada diri beliau, yaitu beliau memiliki keahlian dibidang ilmu kanuragan hanya saja tidak banyak orang yang tahu. Dari perkawinannya baliau mempunyai seorang putri bernama Hj. Walijah, yaitu ibunda Drs. K.H Zubaidi dan saudara-saudara kandung yang berjumlah 7 orang. diantara urut-urutan putra-putri dari pari perkawinan K.H. Muslich dengan Hj. Siti Walijah ini, yaitu :
1. Na’imah.
2. KH. Nizar, beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Muta’alimin dan pensiunan kepala KUA Banyuwangi.
3. Zarkasyi (Alm), beliau adalah seorang guru agama.
4. Drs. KH. M. Zubaidi Muslich, beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam Jombang.
5. Drs. KH. Baidlowi Muslich, beliau adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading, Malang dan menjabat sebagai
Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Malang.
6. Hunainah.
7. Muhtarom.
Dilihat dari kedua jalur keturunan ini, KH. M. Zubaidi Muslich adalah sosok yang dibesarkan dari lingkungan keluarga yang berjiwa juang dalam hal menegakkan dan menyiarkan agama Islam, baik mereka yang berkiprah di dunia pendidikan, pesantren, masyarakat maupun di lembaga-lembaga pendidikan formal.
2. Latar belakang pendidikan
a. Pendidikan Formal
Diantara pendidikan formal yang pernah beliau tempuh, yaitu:
1. Sekolah Rakyat (SR), pada tahun 1952
2. Setelah lulus dari sekolah rakyat beliau melanjutkan ke Sekolah Keguruan atau Pendidikan Guru Agama, pada tahun 1957
3. Setelah lulus dari sekolah keguruan, beliau melanjutkan ke Madrasah Aliyah Tebuireng-Jombang, pada tahun 1962
4. Setelah lulus dari Madrasah Aliyah, beliau melanjutkan kuliah di UNHASY (Universitas Hasyim Asy’ari, sekarang IKAHA atau I
nstitut KeIslaman Hasyim Asy’ari), pada tahun 1966-1971 dengan menyandang gelar sarjana muda.
5. Beliau kemudian mengikuti program kuliah Doktoral sebagai kelanjutan untuk mencapai kesarjanaan lengkap, pada tahun1989
dan berhasil diselesaikan pada tahun 1993.
b. Pendidikan Non-Formal
Sebagaimana yang telah dikemukakan, bahwa lingkungan keluarga Drs. KH. M. Zubaidi Muslich adalah lingkungan keluarga yang kental dengan nilai-nilai Islam, maka tidak mengherankan jika pendidikan agama telah diperolehnya sejak kecil, yaitu di lingkungan keluarga ataupun lembaga-lembaga pengajian. Setelah beliau mencapai usia sekolah, beliau belajar di Sekolah Rakyat (SR) dan tamat, sang ayah kemudian mengirimnya kelembaga-lembaga pendidikan Islam terutama pondok pesantren. Di antara lembaga pendidikan Islam non-formal/pondok pesantren tersebut adalah :
1. Pondok Pesantren Pekauman (Banyuwangi Kota), dari tahun 1957-1960. Beberapa tahun beliau di pondok pesantren ini,
beliau merasa ilmu yang diperolehnya belum cukup kemudian beliau meneruskan ke pondok pesantren yang lain.
2. Pondok Pesantren Bustanul Ma’mur (Genteng Banyuwangi), pada tahun 1961.
3. Pondok Pesantren Tebuireng (Jombang) pada tahun 1962-1964.
4. Pondok Pesantren Lasem-Rembang (Kyai Ma’sum) pada tahun 1964.
5. Pondok Pesantren Tretek-Pare (Kediri), pada tahun 1965. Di Pesantren tersebut beliau khusus mengaji dan
mengkhatamkan Kitab Ihyaa Ulumuddin dan Shoheh Bukhori.
6. Pondok Pesantren Seblak Jombang, pada tahun 1966-1971.
c. Para Guru Drs. KH. M. Zubaidi Muslich
Guru-guru beliau di antaranya adalah:
1. KH. Masdullah, Kyai Harus, Kyai Suhini, Kyai Nawawi, Kyai Syarifuddin, Kyai Abdillah. Kesemuanya
adalah guru-guru yang mengajar selama beliau belajar di Pondok Pesantren Pekauman (Banyuwangi).
2. KH. Junaidi, beliau adalah guru Drs. KH. M. Zubaidi Muslich selama belajar di Pondok Pesantren Bustanul Ma’mur (Genteng Banyuwangi).
3. KH. Adlan Aly (alm), KH. Syamsuri, KH. Shobari, KH. Abdul Fatah, KH. Samsu, semua ini adalah guru-guru beliau semasa beliau di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.
4. KH. Mbah Ma’sum, beliau adalah guru Drs. KH. M. Zubaidi Muslich ketika di Pondok Pesantren Lasem Rembang.
Dan diantara guru-guru beliau yang lainnya adalah KH. Usman Mansur, KH. Mahfud Anwar, KH. Kholil dan Prof. Tengku Ismail Yaqul (alm), serta masih banyak lagi yang tidak dapat sebutkan keseluruhannya.
Setelah beliau menyelesaikan pendidikannya, baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal/pondok pesentren, beliau memutuskan untuk berumah tangga. Pada tahun 1972 beliau melepas masa lajangnya dan memperistri Ibu Nyai Hj. Asmah yang berasal dari Jakarta. Keluarga baru ini selanjutnya bertempat tinggal di desa Kwaron.
3. Pengalaman Perjuangan
a. Sebagai Guru Agama dan Dosen.
Drs. KH. M. Zubaidi Muslich memulai karirnya sebagai pengajar dan pendidik pada tahun 1966 di Madrasah Tsanawiyah Seblak dengan bidang studi literatur buku atau kitab kuning. Beliau diangkat dan percaya langsung oleh Ibu Nyai Hj. Khairiyah Hasyim (almarhumah). Pada tahun yang sama beliau masih menyelesaikan program sarjana muda di Universitas Hasyim Asy’ari –Tebuireng, Jombang .
Pada tahun 1968 beliau di angkat menjadi Kepala Sekolah di madrasah yang sama. Karena keberhasilan dan didekasi beliau yang tinggi dalam memimpin madrasah. Pada tahun 1970, beliau diberi kepercayaan dan diangkat menjadi Kepala Sekolah Madrasah Aliyah.
Selain mengajar dan menjadi Kepala Sekolah di Madrasah Aliyah Seblak, beliau juga menjadi tenaga pengajar di Madrasah Aliyah Tebuireng dan dosen tetap di Institut Keislaman Hasyim Asy’ari di Fakultas Tarbiyah. Pada dasarnya untuk menjadi tenaga pengajar bukanlah hal yang mudah karena seseorang harus mempunyai pengetahuan baik dalam bidang agama maupun dalam bidang pengetahuan umum yang benar-benar mumpuni atau luas wawasan. Jika seseorang ingin menjadi guru agama di madrasah dengan kurikulum mayoritas memakai kitab-kitab kuning, paling tidakseseorang harus menguasai atau paham akan kitab-kitab Islam klasik.

Kemampuan seperti ini telah dimiliki oleh Drs. KH. M. Zubaidi Muslich, karena sejak kecil beliau berada dalam lingkungan yang agamis yang penuh dengan gemblengan ajaran agama dan didukung pula dengan kehidupan pendidikan pondok pesantren. Maka tidak heran jika beliau cukup menguasai kitab-kitab Islam klasik dan dipercayai untuk mengajar di lembaga-lembaga pendidikan formal yang mayoritas kurikulumnya menggunakan kitab-kitab Islam klasik. Sampai sekarang beliau masih menjadi pengajar di beberapa lembaga pendidikan formal.
b. Sebagai Juru Dakwah
Aktifitas Drs. KH. M. Zubaidi Muslich selain dalam bidang pendidikan, beliau juga aktif dalam bidang dakwah Islamiyah. Kegiatan dakwah ini sudah dilakukannya sejak menetap di desa Kwaron Diwek Jombang, baik berupa ceramah maupun pengajian-pengajian rutin. Sampai saat ini beliau masih mengajar di desa tersebut dan tempat-tempat yang lain.
Di antara aktifitas dakwah beliau adalah :
1. Memberikan pengajian-pengajian rutin, yaitu pada setiap hari Kamis, pengajian ini khusus di masyarakat.
2. Memberikan ceramah-ceramah, baik pada hari-hari besar Islam yang di selenggarakan oleh masyarakat dan pondok pesantren
maupun ceramah atas untuk undangan dari orang lain.
Setelah sekian tahun beliau dan keluarga menetap di desa Kwaron, beliau hijrah ke desa Jatirejo yang kelak merupakan cikal-bakal berdirinya Pondok Pesantren Mamba'ul Hikam (MMH). Pada masa awal beliau tinggal di desa Jatirejo ini, kondisi kehidupan keagamaannya masih sangat kurang, sehingga beliau tergerak untuk melakukan dakwah dan pemantapan keagamaan masyarakat Jatirejo, yaitu dengan cara dakwah bil lisan, dakwah bil fi’li dan dakwah bil hal. Beliau mengadakan pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah pada setiap kesempatan dan ketika ada acara-acara yang diselengarakan oleh masyarakat.
Hingga saat ini beliau masih konsisten melakukan dakwah Islam di masyarakat. Semua ini karena didasari oleh ruhul jihad yang tertanam dalam jiwa beliau sejak belia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar