Sabtu, 26 Mei 2012

Gus Dur, Manusia Multideminsi









Judul Novel : Sejuta Hati Untuk Gus Dur, Sebuah Novel dan Memorial
Penulis : Damien Dematra
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, Januari 2010
Tebal : 384 halaman
Harga : Rp. 45. 000
Peresensi : Mashudi Umar*

Pada saat pemakaman almarhum Gus Dur, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (31/12/2009) mengatakan bahwa, Gus Dur sebagai tokoh beragama Islam telah memberikan inspirasi besar bagi bangsa Indonesia. Pemikiran Gus Dur mengenai keadilan keadamaian dan toleransi sangat dihormati oleh bangsa Indonesia, bahkan seluruh dunia. Gus Dur telah mengajarkan kemajemukan. Gus Dur menurut SBY, adalah Bapak Pluralisme dan Multikulturalisme  Gus Dur menyadarkan sekaligus melembagakan penghormatan kepada kemajemukan ide dan identitas yang bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan, etnik, dan kedaerahan.
Kepergian Gus Dur yang begitu cepat sungguh mengejutkan bukan hanya masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Doa senantiasa menggema di jagat republik ini, termasuk dalam pesta malam Tahun Baru 2010 yang lalu dan klimaksnya saat tahlilan ketujuh hari baik di Tebuireng Jombang Jawa Timur dan Ciganjur Jakarta Selatan, belum lagi 40 harinya. Lautan manusia Muslim dan non-Muslim bersatu berkumpul untuk mendoakan guru bangsa, pembela minoritas dan waliyullah menurut masyarakat NU.
Banyak julukan diberikan kepada Gus Dur, tetapi mayoritas orang menyebutnya adalah guru bangsa. Karena ia mengabdikan dirinya demi bangsa. Bangsa yang tetap menjiwai dan dijiwai keanekaragaman. Itulah integritas yang dipertahankan dengan seutuhnya dalam seluruh kehidupannya. Itu terwujud dalam pikiran dan tindakannya hampir dalam semua dimensi eksistensinya.
Dalam komitmennya yang penuh terhadap Indonesia yang plural, Gus Dur muncul sebagai tokoh yang sarat kontroversi. Dia lahir dan besar di tengah suasana keislaman tradisional yang mewataki NU, tetapi di kepalanya berkobar pikiran modern. Bahkan dia dituduh terlalu liberal dalam pikiran tentang keagamaan.
Karier yang dianggap paling kontroversi -dalam kapasitasnya sebagai seorang tokoh agama sekaligus ketua umum PBNU- dan mengundang cibiran adalah ketika menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahunn 1983. Ia juga menjadi ketua juri dalam Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1986 dan 1987.
Pada tahun 1984 Gus Dur dipilih secara aklamasi oleh sebuah tim ahl hall wa al-’aqdi yang diketuai KH As’ad Syamsul Arifin untuk menduduki jabatan Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 di Situbondo. Jabatan tersebut kembali dikukuhkan pada Muktamar ke-28 di Pesantren Krapyak Yogyakarta (1989), dan muktamar di Cipasung Jawa Barat (1994). Jabatan Ketua Umum PBNU kemudian dilepas ketika Gus Dur menjabat presiden RI ke-4 dalam sebuah drama demokrasi tahun 1999 yang dipilih langsung oleh anggota DPR/MPR RI.
Meskipun sudah menjadi presiden, ke-nyleneh-an Gus Dur tidak hilang, bahkan semakin diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat. Dahulu, mungkin hanya masyarakat tertentu, khususnya kalangan nahdliyin yang merasakan kontroversi gagasannya. Sekarang seluruh bangsa Indonesia ikut memikirkan kontroversi gagasan yang dilontarkan oleh Gus Dur, ”gitu aja koq repot.”
Di sisi yang lain, catatan perjalanan karier Gus Dur adalah membentuk dan menjadi ketua Forum Demokrasi (Fordem) untuk masa bakti 1991-1999, dengan sejumlah anggota yang terdiri dari berbagai kalangan, khususnya kalangan nasionalis dan non-Muslim. Sebagai tokoh agama (NU), Gus Dur justru menolak masuk dalam organisasi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dibentuk atas kehendak Presiden Sueharto. Tidak hanya menolak, Gus Dur bahkan menuduh organisai kaum ‘elit Islam’ tersebut dengan organisasi sektarian.
Gus Dur juga memperlakukan kelompok-kelompok minoritas, terutama mereka yang tertindas, sebagai warga negara yang mempunyai hak sama di depan hukum. Tatkala menjadi Presiden ke-4 RI, Gus Dur juga memulihkan hak politik etnis Tionghoa. Gus Dur selalu menegaskan bahwa kelompok minoritas mempunyai hak sipil-politik ataupun hak ekonomi, sosial, dan budaya yang sama dengan hak-hak kelompok ”pribumi”. Eksistensi mereka dilindungi oleh konstitusi. Dalam hal ini, pemikiran tentang pluralisme sejalan dengan spirit demokrasi, bahkan makin memperkukuh. Keduanya tidak bertentangan, bahkan saling menguatkan dan melengkapi.
Gus Dur ingin membangun Indonesia baru yang damai tanpa prasangka dan bebas dari kebencian. Untuk itu, masa lalu yang kejam, kelam, serta tidak toleran harus diputus. Partisipasi masyarakat mesti dibangun, yang lemah tidak ditinggalkan. Dengan kesetiakawanan yang luas dan menyeluruh itu kita baru bisa membangun Indonesia yang kuat. Untuk itu Gus Dur tidak keberatan untuk meminta maaf kepada korban 1965 yang diserang oleh Banser NU. Meskipun Gus Dur mengatakan bahwa ia juga memiliki kerabat yang terbunuh dalam peristiwa Madiun 1948. Namun, balas dendam itu tidak ada gunanya dilanjutkan. Kita tidak akan mampu mewujudkan rekonsiliasi tanpa menghilangkan stigma atau kecurigaan terhadap suatu kelompok.
Novel bertajuk, “Sejuta Hati Untuk Gus Dur” adalah karya kreatif Damien Dematra, seorang novelis, sutradara dan pelukis yang diadapatasi dari skenario film Gus Dur: The More, yang awalnya direncanakan akan diputar di bioskop-bioskop Indonesia untuk menyambut ulang tahun Gus Dur yang ke-70 pada bulan Agustus 2010. Namun berpulangnya sang tokoh pluralisme pada Sang Pencipta sangat mengejutkan semua pihak. Sehingga Damien, penulis novel, langsung banting setir dan spontan untuk menyelesaikan novel ini dalam waktu yang sangat singkat yaitu tiga hari tiga malam.
Dalam novel ini, Damien mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan seorang Gus Dur dari sebelum kelahirannya hingga akhir hayatnya. Juga sebuah kisah kehidupan anak manusia yang sungguh besar jasanya bagi bangsa dan kemanusiaan. Sungguh sulit menemukan tokoh seperti Gus Dur di Indonesia dalam 100 tahun mendatang. Menariknya lagi, novel ini dilengkapi dengan wawancara esklusif dengan Ibu Shinta Nuriyah Wahid beserta putri-putri Gus Dur.
Tidaklah berlebihan, Ahmad Syafii Ma’arif (Mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah) mengomentari Gus Dur dalam novel ini, ”Abdurrahman Wahid telah berangkat menghadap penciptanya untuk waktu tak terbatas. Bangsa ini telah kehilangan pahlawan humanis yang tidak mudah dicari penggantinya. Dengan novel ini, kenangan manis terhadap sahabat kita ini akan terus hidup dan segar dalam lipatan kurun yang panjang.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar