Minggu, 06 Mei 2012

KH. R. AS’AD SYAMSUL ARIFIN


SITUBONDO – JAWA TIMUR

Kiai As’ad, yang rajin membaca dan berlangganan enam koran ditambah sebuah
majalah mingguan berdarah Madura asli. Lahir tahur 1897 di Mekah ketika
orangtuanya menunaikan ibadat haji. Satu satunya adiknya, Abdurrahman juga
lahir di kota suci itu dan bahkan menjadi hakim dan meninggal di Arab Saudi.

Pada umur 6 tahun, oleh ayahnya, K.H. Syamsul Arifin, seorang ulama besar di
Madura, K.H. As’ad ditaruh di Pesantren Sumber Kuning, Pamekasan. Menginjak
usia 11 tahun, As’ad diajak ayahnya menyeberangi laut dan membabat hutan di
sebelah timur Asembagus yang waktu itu terkenal angker “Dulu tidak ada
orang, kecuali ha- rimau dan ular berbisa,” kata Kia As’ad mengenang. Di
bekas hutan perawan itu, mereka membangur permukiman yang kemudian menjadi
Desa Sukorejo.
Pada usia 16 tahun, bersama seorang adiknya, Abdurrahman. As’ad dikirim
kembali ke Mekah dengan harapan setelah pulang mewarisi Pesantren Sukorejo.
Hanya 3 tahun bertahan di Mekah, ia kembali ke tanah air dan masih belajar
di beberapa pesantren. Di berbagai pondok ini, bukan cuma agama yang
dipelajari, juga ilmu silat, ilmu kanuragan.
As’ad juga pernah belajar di Pondok Tebuireng pimpinan K.H. Hasyim Asyari,
dan menjadi kurir ulama ini menjelang lahirnya NU tahun 1929. Setelah NU
berkembang, ia ternyata tak terpaku hanya pada NU. As’ad juga memasuki
Sarekat Islam selama pernah menjadi anggota organisasi Penyedar – yang
didirikan Bung Karno. Di sinilah, As’ad kenal dekat dengan presiden pertama
ini. Di tengah gejolak perjuangan itu (1939), K.H. As’ad menyunting gadis
Madura, Zubaidah. Dan kini dikaruniai lima anak. Si bungsu, satu-satunya
lelaki, Ahmad Fawaid, kini baru 14 tahun. Empat anak perempuannya semua
sudah kawin dan memberinya sembilan cucu serta tiga buyut.
Pada masa mudanya, KH R. As’ad muda menghabiskan masa lajangnya di berbagai
pondok pesantren di pulau jawa. Beberapa PONPES yang pernah beliau tempati
dalam mengais ilmu agama, antara lain PP Demangan Bangkalan asuhan KH.
Cholil, PP Panji, Buduran, PP Tetango Sampang, PP Sidogiri Pasuruan, PP Tebu
Ireng Jombang dan berbnagai PONPES lainnya di Pulau Jawa dan Madura.
Setelah malang melintang di berbagai pesantren beliau melanjutkan studinya
ke Makkatal Mukarromah dan disana beliau berguru kepada Ulama’-ulama besar
seperti Sayyid Muhammad Amin Al-Qutby, Syekh Hasan Al-Massad, Sayyid Hasan
Al-Yamani dan Syekh Abbas Al-Maliki, serta beberapa ulama besar lainnya.
Kiai As’ad dan NU
Belum lengkap rasanya cerita NU tanpa peranan ulama besar ini, KHR. As’ad
adalah sosok kyai yang dari awal telah menganut paham-paham ahl al-sunnah wa
al-jama’ah dan selalu menghiasi kehidupan dalam kesehariannya dengan
budaya-budaya ke-NU an.
Saat menjadi santri KH. Cholil bangkalan, Kyai As’ad muda menjadi santri
kesayangan gurunya sehingga pada masa dimana terjadi peralihan Perkumpulan
Ulama dalam “ Komite HIjaz “ menjadi “jam’iyah” Kyai As’ad muda menjadi
satu-satunya mediator dalam penyampaian isyaroh KH. Cholil kepada KH. Hasyim
As’ari Jombang. Beliau diutus oleh Kyai Cholil pada tahun 1924 beliau
menyampaikan satu tongkat disertai Surat Thoha ayat 17 s/d 23, pada tahun
1925 beliau kembali di utus menyampaikan hasil istikhoroh gurunya kepada KH.
Hasyim As’ari, beliau kembali kejombang dengan seuntai tasbih dan bacaan ya
jabber, ya qohhar 3x.
Pada tahun 1945, ketika Laskar Hisbullah dibentuk Kyai As’ad langsung
bergabung dan memimpin pasukan bergerilya di daerah besuki dan sekitarnya.
Uniknya, pasukan yang beliau pimpin adalah bara mantan bajingan, mereka
dihimpun dalam barisan pelopor yang kemudian engambil peran dalam perjuangan
kemerdekaan dan penumpasan PKI di Situbondo 1965.
Setelah pemilu 1955, Kyai As’ad menjadi anggota konstituante sampai tahun
1959. setelah Lembaga itu di bubarkan oleh Bung Karno beliau tidak banyak
beraktivitas di bidang politik.
Pada tahun 1971, Kyai As’ad menjadi DPRD Kabupaten Situbondo dan pada tahun

1977 beliau mendukun PPP karena NU saat itu mendukung PPP.
Selain itu, Kyai As’ad merupakan salah satu diantara sekian ulama yang
selalu menjembati persoalan-persoalan yang terjadi antara pemerintah dan
umat islam, khususnya warga NU. Sikapnya yang tegas dantangkas
sertabijaksana, beliaiu mampu memainkan perannya sebagai ulama’ NU (pengayom
Masyarakat) sekaligus sebagai politisi yang arif.
Kebijakan-kebijakan kembali dibuktikan pada tahun 1982 mengenai masalah mata
pelajaran PMP yang menjadi kontrofersi antara umat islam dan pemerintah,
tanpa banyak bicara beliau langsung menemui presiden soeharto dan menunjukan
beberapa hal yang mestinya dikoreksi, tidak beberapa lama, dalam tahun itu
juga PMP yang menuai kontrofersi tersebut direvisi dan disempurnakan oleh
pemerintah.
Begitu pula ketika terjadi konflik antara Muslimin Indonesia vs NU dalam
tubuh PPP dan rencana pemerintah memberlakukan Pancasila sebagai
satu-satunya azas Organisasi Sosial, Politik maupun kemasyarakatan,
tiba-tiba di PP Salafiyah Syafi’iyah berkumpul ratusan Ulama’ NU untuk
mengadakan Musyawarah Nasional (Munas) yang berlangsung pada tanggal 18-21
Desember 1983. ketika semua Ormas Islam benyak menolak azas pancasila,
justru Munas menerimanya dan menganggapnya tidak bertentangan dengan aqidah
islam dan Munas tersebut memutuskan mengembalikan NU kegaris dan landasan
asalnya, yang kemudian popular dengan istilah kembali ke khittah 1926.
Inilah sebagian dari peran Kyai As’ad dalam memulihkan keutuhan NU dan Umat
Islam di Negara ini.
Pesantren Sukorejo di bawah K.H. As’ad kini berkembang dengan pesat.
Terletak di pinggir jalan raya Situbondo Banyuwangi, 7 km sebelah timur
Kecamatan Asembagus. Dipintu gerbangnya tertulis bahasa Arab Ahlan Wa Sahlan
dan bahasa Inggris Welcome. Di pondok ini selain dikembangkan pendidikan
gaya pesantren, juga ditumbuhkan pendidikan umum, SMP, SMA, dan Universitas
Ibrahimy. Santri yang mengaji d pesantren sekitar 3.000, dan jika dihitung
semua siswa (santri dan murid sekolah umum) berjumlah 4.100 orang. Kompleks
ini dijuluki “kota santri”. Apalagi ada lapangan di tengah pondok dan santri
setiap saat terlihat main bola – memakai sarung.
Di pondok ini ada sebuah masjid yang tidak begitu besar. Tetapi As’ad
membangun masjid yang jauh lebih besar di luar kompleks Barangkali
dimaksudkan agar para santrl lebih menyatu dengan masyarakat sekitarnya.
Kiai yang rajin memelihara tanaman hias ini pernah mempunyai seekor kuda
putih warna kegemarannya. “Nabi Ibrahim kudanya juga putih,” katanya tentang
kuda itu. Sayang, kuda itu telah mati dan belum ditemukan kuda putih sebagai
pengganti. Namun, ada “kuda” lebih gesit yang dimiliki Kiai sekarang, yaitu
mobil kolt. Juga putih.
Selain rajin mengurusi enam ekor ayam hutannya, kiai ini juga memelihara
seekor burung beo yang pintar berbicara. Jika ada tamu yang datang, burung
itu memberi salam: assalamu’alaikum. Dan bila sang tamu membalas tegur sapa
sang beo, biasanya tamu lantas ketawa, lantaran si beo membalas dengan
kata-kata assooiiii … Tapi burung beo itu pun, menurut santrl di sana,
menyerukan Allahuakbar bila bergema suara azan. “Burung ini pemberian orang
sebagai hadiah,” kata seorang pembantu Kiai As’ad.
Toh ada yang khawatir tentang pesantren yang populer di Jawa Timur ini.
Termasuk Kiai As’ad sendiri. Pasalnya, adalah soal usia Kiai yang sudah
cukup sepuh, sementara pewaris satu-satunya, Ahmad Fawaid, masih sangat
muda. “Saya tak tega menyekolahkan Ahmad ke Arab Saudi, usianya masih muda –
mungkin tiga tahun lagi,” ujar Kiai. “Sang putra mahkota”, walau tekun juga
mengaji bersama teman sebayanya, kamarnya penuh dengan kaset, radio,
televisi, bahkan video. Sebagai anak muda, “hampir setiap saat ia tenggelam
dengan hiburan itu,” ujar seorang pembantu Kiai. Untuk Ahmad Fawaid memang
disediakan kamar khusus yang jauh dari rumah papan Kiai As’ad. Tapi sejak
beberapa waktu lalu telah ditunjuk K.H. Dhofir Munawar, menantu Kiai As’ad
dari anak pertamanya, sebagai pengelola pesantren sehari-hari.
SETELAH menjadi anggota Konstituante (1959), ia tak lagi tergiur pada
jabatan politik. Ia menolak jabatan yang disodorkan Bung Karno untuk menjadi
menteri agama di zaman Nasakom. Bahkan, sebagai ulama yang cukup terpandang
di kalangan Nahdatul Ulama (NU), ia juga menolak ketika ditawari untuk
menjadi rois am, bahkan rois akbar.
Kiai Haji Raden As’ad Syamsul Arifin, pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah
Syafiiyah, Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa
Timur, agaknya memang hanya tertarik mengurusi pesantrennya. “Saya ini bukan
orang politik, saya ini orang pesantren,” kata kiai berusia 86 tahun itu.
Lebih-lebih karena pengalaman selama menjadi anggota Konstituante
(1957-1959): selama itu pula pesantrennya sangat mundur.
Bukan berarti Kiai As’ad menyembunyikan diri dari keriuhan politik dan
hingar-bingar NU, yang sampai kini tak pernah selesai tuntas. Terbukti dari
kegiatannya menerima tamu yang tak putus-putusnya. Banyak pengamat menilai,
Kiai As’ad adalah salah seorang dari sedikit ulama yang pandai menjembatani
jika ada “ketegangan” antara pemerintah dan umat Islam, khususnya NU. Ketika
ribut-ribut soal buku PMP, Kiai As’ad tanpa banyak bicara, langsung menemui
Pak Harto. “Bagaimana Pak, buku PMP ini ‘kan bisa merusak akidah umat
Islam,” kata Kiai mengulang pembicaraan yang sudah setahun lebih itu.
Berbicara begitu, Kiai As’ad memberi beberapa contoh yang semestinya
dikoreksi. Pak Harto, menurut Kiai, berjanji akan menyelesaikannya.
“Ternyata buku itu akhirnya disempurnakan,” kata Kiai, yang sudah 15 kali ke
Mekah.
Di saat ribut-ribut soal asas tunggal Pancasila, awal Agustus, untuk
kesekian kalinya, Kiai As’ad menemui Pak Harto di Cendana. Pertemuan itu,
yang dihadiri juga oleh Menteri Agama K.H. Munawir Syadzali yang
direncanakan cuma 15 menit, mekar menjadi 1 jam. Kepada Presiden ditegaskan
pendirian NU yang menerima Pancasila. “Ini penting ditegaskan, karena NU
sejak semula berlandaskan Pancasila dan UUD 45,” tuturnya. Presiden, menurut
Kiai, manggut-manggut. Bahkan Kiai As’ad lebih menegaskan, “Islam wajib
menerima Pancasila, dan haram hukumnya bila menolaknya. Sila pertama itu
selaras dengan doktrin tauhid dan Qulhuallahu Ahad.”
Dalam kemelut NU, Rois Am K.H. Ali Ma’shum, bersama pengurus NU lainnya,
mondar-mandir ke Situbondo. Kiai As’ad dipercayai menjadi “penengah”
penyelesaian kericuhan setelah K.H. Idham Chalid, sebagai pucuk pimpinan
PBNU, menyatakan mundur – tapi kemudian mencabut pernyataan itu.
Di pesantrennya, Kiai menempati rumah sederhana berdinding papan berukuran 3
x 6 meter. Rumah yang terletak di antara asrama santri wanita dan santri
pria itu tergolong paling jelek di Desa Sukorejo. Tapi tidak sembarang tamu
boleh berkunjung ke rumah itu – sebab yang diterima di sana hanya yang sudah
dianggap keluarga. Para pejabat, dari lurah sampai menteri, diterima di
rumah yang lebih bagus, milik anaknya. Di rumah si anak tersedia ruang
berukuran sekitar 30 m2 yang digelari permadani untuk tamu yang ingin
bermalam, atau terpaksa bermalam, menanti giliran menemui Kiai, yang semua
gigi atasnya sudah tanggal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar